Restoran Di Hongkong Bagikan Makanan Gratis Selama Natal Untuk Para Demonstran

Restoran Di Hongkong Bagikan Makanan Gratis Selama Natal Untuk Para Demonstran

Ratusan demonstran anti-pemerintah dan para pendukungnya pada Rabu, 25 Desember 2019 berkumpul di luar sebuah restoran kecil di Hongkong untuk merayakan Natal melalui cara yang tidak biasa. Pada area ini, mereka akan makan-makan memperingati hari lahirnya Yesus.

“Masyarakat Hongkong lebih bersatu pada Natal tahun ini jika dibandingkan sebelumnya,” kata Glory, pemilik restoran Kwong Wing Katering.

Para demonstran anti pemerintah ini mengedarkan piring supaya orang lain dapat ikut menikmati sajian makanan. Tersaji di nampang besar makanan berupa mie, pasta dan ayam goreng. Semua makanan ini disajikan secara gratis oleh pemilik restoran Kwong Wing Katering beserta beberapa donatur yang tidak diungkapkan namanya.

Restoran Di Hongkong Bagikan Makanan Gratis Selama Natal Untuk Para Demonstran

“Sebenarnya tidak ada rasa suasana Natal tahun ini akan tetapi ada rasa persatuan yang kuat,” kata Glory.

Jeanette, 22 tahun yang merupakan mahasiswi sebuah universitas di Hongkong menceritakan bahwa dirinya dan temannya biasanya menghabiskan Natal bersama dengan keluarga. Akan tetapi, tahun ini mereka mengikuti unjuk rasa damai yang telah berjalan hampir setengah tahun.

“Kami sekarang semua yaitu para peserta unjuk rasa telah terasa seperti keluarga,” kata Jeanette.

Restroan Kwong Wing Katering ini adalah salah satu dari beberapa usaha di Hongkong yang menjadi bagian apa yang disebut dengan Ekonomi Kuning di Hongkong. Usaha-usaha ini diketahui mendukung kampanye kelompok masyarakat yang pro dengan demokrasi. Di restoran ini pada Natal kali ini, dipenuhi dengan tulisan dukungan dari para pelanggannya.

Hongkong memanas oelh gelombang unjuk rasa anti pemerintah yang meletup pada Juni 2019 lalu dan tidak menunjukan adanya tanda akan berhenti. Pada hari Natal, 25 Desember 2019, masyarakat turun ke jalan dengan menggunakan pakaian serba hitam. Mereka berlindung ke pusat perbelanjaan untuk menghindari tembakan gas air mata yang ditembakan oleh aparat ke arah mereka.

Para demonstran yang berunjuk rasa meluapkan kemarahan atas apa yang mereka sebut sebagai sebuah gangguan dari Beijing terhadap otonomi Hongkong. Hongkong berada dalam aturan satu negara dua sistem setelah wilayah ini dikembalikan oleh Inggris ke Beijing.